Minggu, 20 Februari 2011

Bisnis Rumahan Yang Menjanjikan

1. Rental Mobil
Kalau Anda mau mulai usaha rental mobil, dana awal yang dibutuhkan memang cukup besar, sekitar 30 juta rupiah yang digunakan untuk membayar uang muka cicilan mobil. Namun, pasar penyewa mobil pun masih sangat terbuka, sehingga mendapatkan order 4 penyewa dalam sepekan untuk menutup biaya plus mendapatkan untung, adalah target yang cukup realistis.
Setelah mobil dilunasi pada tahun ketiga, mobil bisa dijual untuk dipakai lagi mencicil 2 mobil baru. Saat mobil semakin banyak, Anda perlu menambah budget operasional dengan komponen biaya iklan (sekitar 500 ribu per bulan) dan biaya surveyor.

2. Terima Jahitan
Ternyata tak mesti pandai menjahit bila ingin punya usaha terima jahitan. Ini dialami sendiri oleh Bapak Royih pemilik usaha jahit Roy Mode Cirendeu, Pondok Cabe, yang sudah memiliki usaha sejak 1993. Tapi tentu lebih baik bila Anda tahu teori menjahitnya agar tetap bisa mensupervisi pekerjaan para karyawan.
Bila tempat usaha Anda di pinggir jalan, Anda tinggal pasang plang atau menyebar brosur. Tetapi tak usah kecil hati bila rumah Anda ada di pojok terpencil. Yang penting Anda mau banyak bersilaturahmi mendatangi kenalan dan kerabat untuk mencari pelanggan, termasuk rajin mendatangi perkantoran atau sekolah-sekolah.

3. Salon Kecantikan
Menyadari bahwa setiap wanita pastilah ingin tampil cantik, memiliki usaha salon kecantikan tentu menjanjikan penghasilan lumayan. Sebagai pengusaha pemula, tak perlu berpikir susah dalam membuka salon. Cukup sediakan pelayanan standar seperti potong rambut, facial, creambath dan lulur, bila dilengkapi dengan kenyamanan dan keramahan akan membuat pelanggan datang satu demi satu.
4. Warung Makan
Warung makan memang bisnis yang tak pernah sepi. Siapa sih orang yang tak butuh makan? Para bujangan yang belum berkeluarga, mengandalkan warung makan untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka yang sudah berkeluarga juga membutuhkan kepraktisan hidangan. Apalagi bila tempat usaha berada dekat pabrik, sekolah atau perkantoran. Jam-jam makan siang dan malam, warung makan hampir dapat dipastikan selalu padat pengunjung.
Perhatikan tiga hal utama dalam usaha warung makan. Kualitas yang terjaga, tempat yang resik serta pelayanan yang ramah. Bila tiga hal ini sudah terpenuhi, konsumen tentu tidak segan kembali bahkan akan memberikan promosi pada kenalan-kenalan mereka.

5. Toko Obat
Tak ada yang bisa menunda datangnya sakit. Kalau badan sudah tak nyaman, mau tidak mau, suka tidak suka, berapapun harga sudah tak dirasa. Obat pasti dicari. Itu sebabnya, punya toko obat amat menjanjikan. Asalkan ada tempat, wilayah perumahan elite atau kampung padat pun jadi. Bahkan makin ramai penduduknya makin baik buat usaha toko obat.
Syarat utama untuk membuka toko obat, tentu harus ada izin yang bisa dikantongi oleh seorang, minimal, asisten apoteker. Syukur Alhamdulillah kalau Andalah si asisten apoteker itu. Kalau tidak, pilihannya adalah menggaji asisten apoteker (tidak disarankan untuk pengusaha pemula) atau meminjam (menyewa) izinnya.
Dalam hal ini, sang asisten apoteker cukup mendampingi usaha dan datang sesekali bila perlu. Sebab, obat-obat yang diperdagangkan pun hanya dari jenis obat bebas saja.

6. Bunga Hias
Punya hobi merawat tanaman, juga bisa memberi penghasilan yang lumayan. Hal ini sudah dibuktikan oleh Pak Sri Hartoyo dari Jalan Kukusan, Beji, Depok yang memiliki usaha jual beli tanaman hias. Bahkan, sebagai langkar awal, Anda cukup membeli tanaman jadi yang sudah dipasang dalam pot. Selain langsung dijual, tanaman hias ini bisa Anda regenerasi dengan cara dipecah dua atau dicangkok hingga tergandakan setelah 4 bulan. Usaha tanaman hias sangat baik bila berada di lokasi pinggir jalan utama. Bila tidak, Anda perlu menambah sedikit usaha ekstra dalam melakukan promosi.

7. Kue Kering
Bisnis kue kering memang identik dengan masa-masa panen di hari  raya. Namun, bila serius melakoninya, pada bulan-bulan biasa pun setidaknya 100 toples kue bisa terjual. Ini dibuktikan sendiri oleh Ibu Sterna dari Duta Bintaro, Serpong Tangerang yang sudah enjoy berbisnis katering dan produksi kue kering. Kue-kue kering bisa dipasarkan dengan cara titip jual atau promosi dari mulut ke mulut. Bahkan diketahui cara kedua ini lebih efektif sehingga penjualan kue kering Ibu Sterna pun tak pernah surut. Bila Anda rasa pendapatannya tak begitu besar, lihat bahwa modal dan biaya operasionalnya pun kecil saja. Sambil bersendau gurau dengan keluarga, Anda bisa menguleni adonan juga memanggang. Tahu-tahu, 100 toples terhidang. Anda berminat ikuti jejaknya?

8. Bimbingan Belajar Privat
Lembaga bimbingan belajar memang banyak, tapi banyak pula anak didik yang lebih ‘kena’bila diajar secara pribadi alias privat. Selain lebih terarah, fokus perhatian guru pun tidak terpecah. Situasi ini segera ditangkap Subekhi, alumnus D3 Fisika UI yang segera saja menjadikan bimbingan belajar privat sebagai sumber penghasilan.
Modal awalnya sangat kecil, karena tidak harus sekaligus ada, dan tak perlu pusing memikirkan kelas-kelas kursus atau gaji sekian banyak guru. Cukup mencari murid dan memasangkan dengan para guru lepas, penghasilan yang didapat dengan cara bagi hasil ini amat memadai. Apalagi, setiap murid yang memberi rekomendasi murid baru akan diberi komisi pula. Semakin banyak saja murid bisa di dapat. Subekhi “hanya” bisa mendapatkan 500 murid per semester. padahal ada belasan jutaan siswa SD, SMP, dan SMA di seluruh Indonesia. Sisanya mungkin milik Anda. Mengapa tidak mencobanya?

9. Fotografi
Punya ketrampilan fotografi jangan disia-siakan, karena bila dijadikan bisnis bisa jadi sumber penghasilan yang lumayan, sebagaimana ditekuni Jumari dari Berkah Foto Studio, Cengkareng, Jakarta Barat.
Modal awal yang dibutuhkan memang cukup besar bila ingin mendapatkan hasil maksimal. Namun, tak usah khawatir, banyaknya event seminar, reuni, pesta pernikahan, acara-acara perkantoran bisa membuat investasi Anda cepat kembali kok.

10. Produksi Dompet
Punya tak punya uang, tiap orang hampir selalu punya dompet. Bu Ida rupanya cukup jeli melihat kebutuhan masyarakat akan dompet ini. Makanya kejeliannya melihat dompet membuatnya memutuskan menjadi produsen dompet bahan parasut yang banyak dijajakan di hampir setiap setiap pasar, stasiun, terminal bahkan gelaran-gelaran kaki lima.
Cukup menggandeng dua penjahit tetap, ia mampu menyelesaikan produksi di rumahnya di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur hingga mencapai 1500 lusin per bulan di kala orderan sedang meningkat. Tentu tak hanya dikerjakan dua pegawainya, melainkan dengan menggandeng pula penjahit borongan yang dipanggil sesuai banyaknya order pesanan.
Awalnya ia menawarkan dompet-dompet ini pada pedagang dan pemasok. Namun, seiring waktu, kini produk Akbar Mandiri, nama perusahaan Ida, sudah banyak dicari para pedagang dan konsumen. (Ummi edisi spesial Des-Jan ‘04).

SELAMAT MENCOBA.

Tidak ada komentar:

10 Artikel Paling Sering Dibaca